Berjiwa Muda



Pagi yang cerah dengan secangkir teh hangat yang ada di atas meja. Ibu menghabiskan pagi itu dengan membaca majalah di teras rumah setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Sembari menikmati angin sepoi-sepoi, dan udara segar. Aku datang menghampirinya, menarik kursi kosong kemudian duduk di samping Ibu. Apa kabar dengan kakek, bu?. Seminggu ini aku belum ketemu kakek di rumahnya. Jawab ibu, Oh iya, kabar kakekmu alhamdulillah lebih baik dari sebelumnya. Kemarin ibu dan ayah ke sana. Lalu kabar nenek di sana sehatkan?. Sahut aku. Iya Sayang.

Aku berencana sepulang sekolah besok untuk menjenguk kakek dan nenek, sudah lama aku tidak berjumpa dengan mereka. Semenjak aku sibuk dengan kegiatan dan tugas-tugas sekolah. Rasa lelah yang membuatku belum sempat lagi menemui kakek yang sedang sakit.


Waktu menunjukan pukul 13.00 WIB. Semua siswa berhamburan keluar kelas, setelah bel sekolah berbunyi sebagai tanda berakhinya pelajaran. Wajahku masih saja terlihat murung, tak bersemangat, dan sedih. Dari upacara Sumpah Pemuda tadi sampai sekarang. Entah, ini mungkin aku mencemaskan keadaan kakek.

Hay Binar, habis ini kita main yuk? Ajak Seli salah satu teman sekelasku. Aduh, ma`af aku tidak bisa. Loh ada apa?. Hari ini aku mau menjenguk kakek yang sedang sakit. Jawabku. Kalau begitu aku ikut ya sahut Seli. Boleh-boleh kataku bersemangat.

Kami berdua berteman baik dari pertama masuk sekolah. Seli adalah orang yang rajin, pintar dan baik hati. Dia yang selalu menemaniku saat aku susah. Aku memang tidak sepintar Seli. Setidaknya aku juga tidak terlalu bodoh. Bisa di bilang murid yang biasa-biasa saja.

Lima langkah lagi kami sampai di rumah kakek dan nenek. Tok tok Assalamu`alaikum. Wa`alaikum salam suara itu terdengar dari dalam rumah. Kemudian pintu dibuka.Nenek Seketika aku memeluknya, lalu melepasnya. Kamu cu, kakek ada di dalam. Ayo nenek antar. Nenek sepertinya mengetahui niatku walaupun aku tidak mengatakannya secara langsung. Ini siapa, cu? Menatap Seli dengan penasaran.Kenalin nek, ini Seli teman aku. Sengaja aku ke sini dengan dia tidak apa-apakan nek?. Santai cu, tidak apa-apa kok, tidak masalah juga kamu ke sini bersama teman. Aku cuma meringis.

Di ruang tengah langkah kaki kami berhenti. Melihat kakek sedang menonton acara TV. Nenek pun meninggalkan kami bertiga, karena masih ada urusan dapur yang belum selesai.

Syukurlah kakek sudah bisa keluar dari kamar kataku membuka pembicaraan. Kakek sudah sehat cu, kemarin sekedar masuk angin biasa. Sambil memelankan volume TV. Aku mengiyakan. Meskipun kakek sudah tidak muda lagi, beliau selalu memiliki semangat muda.

Setiap hari hampir sore sampai menjelang malam, kakek menjual kue leker di depan taman kota. Dengan begitu, uang bulanan yang di beri ayah dan ibu tidak lantas habis. Sisanya beliau simpan untuk kebutuhan yang lain. Beda lagi dengan hari ini, kakek tidak memilih berdagang. Untuk istirahat menenangkan pikiran dan memulihkan staminanya kembali.

Cu bagaimana dengan sekolah kalian tadi? tanya kakek. Hari ini kami ulangan bahasa inggris kek, lalu nilai ulanganku jelek jawabku. Seli menghiburku dengan berkata Besok masih ada remidi Bi, perbaikilah di situ siapa tahu kamu bisa mendapat nilai 100 dan menutup nilai ulanganmu tadi. Aku dan kakek tersenyum. Cu, benar apa katakan Seli. Kalian ingat ini hari apa? tambah kakek. Hari Sumpah Pemuda. Aku dan Seli menjawab. Karena tadi baru saja kami melaksanakan upacara di sekolah.


Setiap tahun tanggal 28 Oktober kami selalu memperingati hari Sumpah Pemuda. Momen itu melatar belakangi bersatunya komponen pemuda di Nusantara. Isi atau bunyi sumpah pemuda 28 Oktober 1928:

Pertama: Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.

Kedua: Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Ketiga: Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Kakek mengatur nafas seraya berkata Negara ini merdeka sejak beberapa tahun lalu. Semua ikut serta dalam memperjuangkan NKRI. Tidak peduli usia mereka tua atau muda. Para pejuang dulu berkoban sampai titik darah penghabisan. Dengan prinsip pantang menyerah dan memiliki keyakinan yang tinggi untuk membela tanah air dari penjajah. Lalu apa hubungannya dengan nilai bahasa inggrisku kek? tanyaku dengan kepolosan dan mengaruk-garuk kepala Tentu ada Bi sahut Seli. Seakan-akan dia paham maksud dari perkataan kakek.

Begini cu, kalian adalah agen perubahan untuk membawa Negara Indonesia menjadi lebih baik. Tidak sepantasnya kalian yang mengaku berjiwa muda sering mengeluh dengan keadaan apalagi gara-gara nilai jelek. Perjuangan para pahlawan yang dahulu tidak berhenti sampai di sini. Kalian sebagai generasi lanjutan harus bisa mengisi masa depan dengan meraih cita-cita, tanamkan rasa percaya diri dan usaha yang gigih. Apapun yang kalian cita-citakan itu hak kalian untuk memilih. Karena setiap orang pasti mempunyai cita-cita yang belum tentu sama.

Aku ingin jadi dokter, kek kataku. Bagus, menyelamatkan nyawa orang lain adalah sifat yang mulia kakek mengangguk. Kalau Seli ingin jadi apa? tanya kakek kepada temanku. Aku ingin jadi polwan sahut Seli. Polisi Wanita?kakek kembali menanyakan kesungguhan Seli.Iya kek.

Aku dan Seli masih ingat betul pesan yang dibawakan Pembina upacara di lapangan kurang lebih seperti yang kakek sampaikan kepada kami. Dengan ini kami berdua semakin tahu arti dari kemerdekaan dan sumpah pemuda yang sebenarnya. Baik dari kakek maupun dari guru kami.

Hari semakin sore, kelihatannya matahari di luar sana tidak lagi sepanas saat kami ke sini. Ibu sudah mengirim sms Nak, kamu masih di sekolah?. Kelihatannya aku sudah di tunggu ibu untuk pulang ke rumah. Oh, iya aku lupa izin ke ibu. Aku membalas SMS Tidak ibu, aku ini sedang di rumah kakek. Sebentar lagi pulang.

Selamat Hari Sumpah

Sumber gambar : http://obedreywillys.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo Menulis

Phobia Angkotan Umum. Why?

Balkon dan Jemuran