Balkon dan Jemuran
Kota Salatiga dengan kebiasaan lamanya. Dia berjalan pelan menaiki anak tangga dengan membawa ember disebelah tangan kanan. Sesekali tangan kirinya ikut serta menopang, sebab cucian yang dibawa kali ini tidak sedikit. Satu persatu pakaian dikeluarkan dari ember. Dijemurlah pakaian tersebut dibeberapa utas tali yang melintang dengan mengunakan hanger. Sambil bergumam dalam hati "baru sempet nyuci nih, kelihatanya cuaca bersahabat".
Selang 10 menit selesai. Tidak lama kemudian dua temannya menyusul ke atas balkon untuk menjemur pakaian juga. Wajar, sedari tadi pagi hujan terus-menerus. Jadi itikad mereka untuk mencuci tadi pagi kehilangan mood.
Dua cewek yang barusan datang tadi sibuk dengan pakaiannya masing-masing yang masih basah. Yang satunya mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Dia mematung, merangkul kedua kakinya. Sambil melihat-lihat birunyanya langit (kurang lebih jam 16.30), burung-burung bertebangan kesana-kemari, serta menikmati semilirnya angin yang silih berganti. Bahagia terlukis di wajahnya, senyum mengembang dari bibirnya yang tipis.
"Hay ngapain lu dipojokan kayak orang gak guna". "Iya" suara itu terdengar dari arah yang berlawanan.
Cewek yang duduk itu cuma meringis. Pikirnya dia sudah berada di tempat yang aman dari tetesan-tetasan air.
Tidak lama kemudian dua cewek mengampiri dia. Dan pindah posisi duduk.
Mereka bertiga bak keluarga kedua di kota asing. Yang tinggal seatap satu rumah. Sebenarnya masih ada dua cewek lagi yang dianggap seperti ibu dan kakak. Tetapi mereka ada di ruang bawah.
Lima cewek tersebut saling tolong-menolong dalam urusan rumah.
............................................................................
Keasyikan di atas balkon, bercanda, curhat dan saling melempar tawa. Membuat mereka lupa bahwa sebentar lagi langit biru berubah warna menjadi jingga hingga gelap menyelimutinya. Nampaknya sebentar lagi magrib. Mereka segera bergegas turun.
Komentar
Posting Komentar